Wednesday, April 24, 2013

Breeding- Seleksi Breeder

Breeding- Seleksi Breeder
Tujuan genetic breeding yg utama adalah mencetak breeder yang baik. Menurut saya, tahap tersulit dalam breeding adalah dalam hal melakukan seleksi terhadap burung yang akan dijadikan breeder.
Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam melakukan seleksi adalah:
1.        Pada dasarnya tidak ada merpati yang memiliki struktur gen yang sempurna, termasuk merpati yang dikatagorikan merpati juara. Gen negatif, baik gen pembentuk fisik maupun karakter (traits), bisa saja tidak muncul ke permukaan karena bersifat resesif. Gen negatif yg bersifat resesif ini suatu saat akan muncul ke permukaan melalui inbreeding dan linebreeding. Tujuan seleksi adalah untuk secara bertahap menyingkirkan traits negatif dari burung yg akan dijadikan breeder.
2.        Dalam beternak, tidak dibutuhkan banyak breeder. Sebagai patokan, apabila kita menggunakan babuan, maka jumlah breeder dalam kandang max 10 % dari jumlah burung yang akan dihasilkan dalam 1 thn. Misalnya dalam 1 thn ingin mencetak 10 ekor piyik (5 ps), maka cukup memiliki 1 pasang breeder. Berapa jumlah piyik yg akan dicetak tentunya tergantung dari kemampuan masing2 (ukuran kandang, kemampuan melatih, kemampuan merawat dengan baik, dll). Prinsipnya semakin sedikit jumlah burung dalam kandang, akan semakin baik karena akan memudahkan dalam perawatan dan pelatihan.
3.        Karena kita tidak membutuhkan banyak breeder, maka seleksi terhadap burung2 yg akan dijadikan breeder harus ekstra ketat bahkan kejam. Jangan ada kompromi sedikit pun terhadap burung yg kita nilai tidak memenuhi syarat.
4.        Beberapa kesalahan yang umum dilakukan dalam melakukan seleksi antara lain:
a.        Tidak memiliki kriteria atau alat yang jelas. Menurut sarannya Bishop, sebelum kita memasuki program breeding, indukan yg akan dijadikan breeder harus diteliti secara cermat semua ciri2 fisik kedua indukan. Buat catatan yang rapih semua ciri2 fisik indukan mulai dari bentuk kepala, mata, otot tulangan, bulu dll sampai hal2 yang kecil seperti warna kuku dan warna paruh. Gunakan catatan tersebut sebagai patokan untuk melakukan seleksi anatomi dengan cara membandingkan ciri2 fisik indukan dengan piyik. Apabila ada ciri fisik anakan lebih jelek dari induknya (bapak dan ibunya), maka harus disingkirkan. Namun demikian, apabila piyikan memunculkan suatu ciri2 fisik yg tidak ada pada induknya, namun bersifat positif (nilai plus), maka jangan disingkirkan tetapi perlu dilakukan test performance. Dalam melakukan seleksi fisik, jangan terpengaruh oleh warna, seperti warna bulu atau mata, tetapi lebih fokus pada kualitas (kemampuan terbang, gandeng, mau ninggal musuh dan hinggap disasaran dengan tepat).
b.        Ragu-ragu untuk menyingkirkan piyik yg sebetulnya tidak memenuhi syarat. Ini bisa terjadi karena kita tidak memiliki kriteria yang jelas sehingga kita tidak bisa bersikap tegas. Sifat ragu2 ini biasanya dipengaruhi oleh fikiran “siapa tau” nanti bagus. Seperti sudah disampaikan pada awal tulisan, prinsip dalam melakukan seleksi adalah “cull more, not less” atau semakin banyak yg disingkirkan, akan semakin baik. Apabila burung yg kualitasnya di bawah standard tetap dipertahankan, maka program breeding akan lambat mengalami kemajuan bahkan kualitas breeder kita semakin lama justru akan semakin menurun. Yang perlu diingat, kita tidak membutuhkan banyak breeder!! Dan mencetak racer akan menjadi mudah apabila sudah memiliki breeder yang baik. ( Tolong hal ini menjadi catatan penting jangan ditawar – tawar lagi )
c.        Tidak jujur dan tidak obyektif waktu melakukan seleksi ini yang banyak dilakukan oleh pemain merpati. Yang biasa terjadi adalah apabila piyik yang akan kita seleksi berasal dari indukan favorit, maka kita menjadi tidak tegas meskipun piyik dari indukan favorit tersebut jelas2 tidak memenuhi kriteria. Untuk itu maka diperlukan alat seleksi yang obyektif, mau dari indukan apapun Trahnya kalo jelek yah harus disingkirkan.
5.        Pada prinsipnya ada 3 tahap proses seleksi, yaitu “Potential test, performance test, dan progeny test”.
a.         Potential test.
Potential test atau atau seleksi potensi adalah seleksi yg dilakukan sebelum piyik dilakukan performance test (test kemampuan). Dari beberapa sumber bacaan, burung piyik yang harus disingkirkan adalah yang memperlihatkan ciri – ciri sbb:
-  Pertumbuhan badan tidak normal (kuntet, bulu – bulu tidak normal atau ukuran sayap dan badan tidak seimbang)
-   Secara anatomi tidak memenuhi syarat (cacat atau kualitas anatomi di bawah standard yg sudah kita tentukan)
-   Piyik yg masih di dalam kandang kalau dipegang bersikap liar atau takut secara berlebihan (tanda2 nyalinya ciut).
-   Piyik yg terlalu pendiam atau tidak aktif (tanda – tanda nggak PD).
-   Piyik yang meskipun telihnya sudah penuh/kenyang tetap “teriak2″ minta diloloh.
-   Piyik yg sudah berumur 1 bulan tapi belum bisa minum sendiri atau mengenali tempat minum (tanda2 calon bodoh/bebel). Apalagi kalau yg 1 sudah bisa minum sendiri, tapi kembarannya belum bias minum, makan agar sgr diamati bila memang nampak bodoh segera disingkirkan.
b.     Performance test.
Karena kita hanya memainkan burung jantan, maka yg bisa dilakukan performance test aja yang jantan saja, sementara yg betina langsung dilakukan progeny test ( menyilangkan dengan beberapa pejantan yang sudah terbukti kualitasnya). 
Untuk melakukan performance test juga harus ada kriteria yg jelas. Kalau kita main balap, mulai dari dasar latihan, pertengahan latihan, kendala yang dihadapi bisa tidak mencapai sesuai dengan harapan kita dan bila di ikuti lomba maka kriterianya bisa menjuarai lomba di tingkat tertentu. Kriteria juga bisa bersifat kualitatif, misalnya kecepatan terbang atau tembak kejoki sesuai dengan yang kita harapkan. Kembali di sini diperlukan kejujuran untuk menilai apakah burung yg ditest kinerjanya sesuai yg kita harapkan.
c.    Progeny test
Karena tujuan genetic breeding adalah mencetak breeder, maka test yang paling penting adalah progeny test atau test kemampuan breeding. Dalam performance test tentunya yang paling mudah dilakukan adalah mengecek kemampuan jantan sedangkan pada progency test selain jantan betina pun harus di lakukan progentcy test.  Cara yang paling mudah adalah dengan menyilangkan betina dengan beberpa induk jantan yang sudah terbukti kualitasnya, lalu diambil berapa anakan hasilnya berapa persen indukan tersebut menghasilkan anakan yang berkualitas dari masing – masing persilangan dengan pejantan yang ada. Agar bisa obyektif untuk melakukan progeny test maka diperlukan suatu penghitungan yang benar, teliti dan akurat, sehingga menghasilkan racer yang sesuai dengan harapan.
Jangan menyerah dalam melakukan Eksperimen karena dalam bereksperimen tidak ada panduan yang baku, semua berdasarkan pengalaman yang berbeda – beda. Selamat mencoba, Jangan Banyak Tanya, Baca, Praktek, Analisa dan ambil kesimpulan Sendiri.
Sumber :
http://janokomozartbirdfarm.blogspot.com

No comments:

Post a Comment